Cara mendapatkan pelanggan pertama untuk website toko anda
Sebuah cerita, dari website yang belum dikenal siapa pun sampai jadi tempat belanja andalan pembelinya. Tiap bab ditutup dengan langkah yang bisa langsung anda tiru.
Website baru live
Belum ada yang tahu
Kartu promo di paket
Untuk pelanggan marketplace
Sosial media
Link website di bio
Affiliate
Kreator ikut menjual
Reseller & agen
Tiap orang punya link sendiri
Belanja lagi
Lewat WhatsApp & langganan
Website ramai pembeli
Pembeli datang langsung
Bab 1: Website sudah jadi, tapi sepi
Rani jualan serum dan sunscreen di Shopee dan TikTok Shop. Banyak pembelinya yang beli lagi tiap produknya habis. Suatu hari Rani membuat website sendiri, supaya pelanggan setianya bisa belanja langsung ke dia.
Hari pertama website live, Rani menunggu. Tidak ada order. Hari kedua juga tidak. Wajar: belum ada yang tahu alamatnya.
Dua ide pertama yang terpikir oleh Rani: menaruh link website di deskripsi produk marketplace, lalu mengirim WhatsApp ke pembeli lamanya. Dua-duanya ternyata tidak bisa.
Tokopedia
Melarang listing yang mempromosikan situs atau toko di luar Tokopedia, lewat gambar, judul, maupun deskripsi.
TikTok Shop by Tokopedia
Tegas melarang konten yang mengarahkan pengguna ke luar platform: tautan, nomor telepon, akun media sosial, email, atau kode QR.
Shopee
Tidak punya daftar serinci itu, tapi aturan umumnya melarang konten yang mengarahkan pembeli ke luar platform. Perlakukan sama.
Soal WhatsApp: marketplace menyamarkan nomor telepon pembeli, jadi Rani memang tidak bisa menghubungi mereka. Nomor di resi pengiriman juga bukan jalan keluar. Nomor itu diberikan untuk mengirim satu paket, bukan izin untuk promosi, dan memakainya bersinggungan dengan aturan persetujuan di UU PDP.
Dari sini Rani belajar satu hal: website tidak dicari orang. Pembeli harus diberi jalan masuk, dan alasan untuk datang. Rani memutuskan membuka beberapa jalan sekaligus, mulai dari pembeli yang sudah ia punya.
Bab 2: Kartu kecil di dalam paket
Pembeli terdekat Rani adalah yang sudah pernah membeli. Di luar marketplace, cuma ada satu tempat ia bisa menyapa mereka: isi paketnya.
Rani mencetak kartu terima kasih kecil. Isinya kode diskon yang hanya berlaku di website, dan QR yang langsung membuka halaman produk. Pembeli yang suka serumnya sekarang punya alasan untuk mampir, tepat saat produknya ada di tangan mereka.
Yang bisa anda tiru
- Tawarkan sesuatu yang tidak ada di marketplace: diskon pesanan berikutnya, bundle, atau sampel gratis.
- Pakai kode khusus kartu (misalnya TERIMAKASIH), supaya anda tahu berapa order yang datang dari kartu.
- Arahkan QR ke halaman produk yang dibeli, bukan ke halaman depan website.
- Buat kalimatnya netral: “diskon untuk pesanan langsung berikutnya”, bukan “jangan beli di marketplace”.
Bab 3: Sosial media jadi etalase sendiri
Rani sudah punya Instagram dan TikTok. Masalahnya, selama ini semua kontennya mengarah ke marketplace.
Ia mengubah satu hal: link di bio sekarang membuka website. Di tiap konten produk, ia sebut bundle yang hanya ada di website. Pengikut yang belum pernah beli sekarang punya pintu langsung ke tokonya.
Yang bisa anda tiru
- Pasang link website di bio, bukan link toko marketplace.
- Beri alasan untuk klik: bundle atau harga yang hanya ada di website.
- Konten cara pakai dan testimoni pembeli diarahkan ke halaman produknya di website.
- Jangan sebut akun sosial media anda di dalam listing marketplace.
Bab 4: Orang lain ikut menjual
Konten Rani hanya menjangkau pengikutnya sendiri. Supaya jangkauannya lebih luas, ia mengajak beberapa kreator kecil dan pelanggan setia yang memang sering merekomendasikan produknya.
Tiap orang dapat kode atau link sendiri, dan komisi dari tiap penjualan lewat kode itu. Rani hanya membayar kalau ada yang beli. Kreatornya senang karena dapat penghasilan, Rani senang karena dapat pembeli baru yang datang ke website, bukan ke marketplace.
Yang bisa anda tiru
- Mulai dari sedikit orang yang sudah memakai produk anda.
- Kirim produk untuk dicoba sebelum mereka membuat konten.
- Satu kode atau link per orang, supaya penjualan tiap orang bisa dihitung.
- Tulis aturannya sejak awal: besar komisi, kapan dibayar, dan klaim produk apa yang tidak boleh dibuat. Untuk skincare dan suplemen, klaim yang berlebihan bisa jadi masalah.
Bab 5: Reseller dan agen punya link sendiri
Rani juga punya beberapa reseller dan agen. Selama ini mereka order lewat chat, lalu menjual lagi ke pembelinya masing-masing. Catatannya berantakan, dan Rani tidak tahu siapa yang paling banyak menjual.
Sekarang tiap reseller dan agen punya link atau kode sendiri ke website. Pembeli mereka checkout langsung di website, semua order masuk ke satu tempat, dan Rani bisa melihat siapa yang paling aktif.
Yang bisa anda tiru
- Beri satu link atau kode untuk tiap reseller dan agen.
- Samakan harga jual di semua tempat, supaya reseller tidak saling banting harga dengan anda.
- Siapkan bahan promosi yang tinggal pakai: foto produk, caption, dan info bundle.
- Beri insentif lebih untuk reseller dan agen yang paling aktif.
Bab 6: Pembeli pertama, lalu pembeli yang kembali
Order pertama di website akhirnya masuk, dari kode di kartu. Lalu satu dari link di bio Instagram. Lalu satu dari kode reseller.
Kali ini ada yang berbeda. Saat checkout, pembeli mengisi nomor WhatsApp dan setuju untuk dihubungi. Untuk pertama kalinya, Rani bisa menyapa pembelinya langsung: berterima kasih, menjelaskan cara pakai, dan mengingatkan saat produknya hampir habis.
Yang bisa anda tiru
- Minta nomor WhatsApp saat checkout, dengan kotak persetujuan yang jelas. Ini yang membuatnya sah menurut UU PDP.
- Kirim satu pesan setelah pembelian: terima kasih, cara pakai, dan kapan biasanya produknya habis.
- Tawarkan harga langganan atau poin loyalty untuk produk yang dipakai rutin.
- Jangan kirim broadcast acak. Kirim yang sesuai dengan apa yang dibeli.
Bab 7: Website yang diandalkan pembeli
Pelan-pelan polanya berubah. Saat serumnya habis, pembeli lama tidak lagi mencari Rani di marketplace. Mereka langsung membuka website, atau membalas pesan WhatsApp dari Rani. Pembeli baru datang dari konten, dari kreator, dan dari reseller.
Toko marketplace Rani tetap jalan, dan tetap jadi tempat orang baru menemukan produknya. Bedanya, sekarang Rani punya pintu sendiri, dan kontak pembelinya miliknya.
Berapa lama sampai ke titik ini? Kami tidak bisa menjanjikan angka. Itu tergantung produk anda, seberapa sering pembeli membeli ulang, dan seberapa konsisten tiap jalan dijalankan. Yang pasti, tidak ada satu cara yang cukup sendirian. Jalan-jalan ini saling menguatkan.
Di mana Niskala membantu
Kami membangun website anda, lengkap dengan pencatatan nomor WhatsApp saat checkout dan pesan setelah pembelian, seperti di bab 6.
Untuk kartu promo, sosial media, affiliate, serta reseller dan agen, kami bantu menyusun strateginya sesuai produk dan pembeli anda. Mau lihat bagaimana hasilnya di website?
Minta demo produk